Translate

Search This Blog

Showing posts with label SASTRA. Show all posts
Showing posts with label SASTRA. Show all posts

Friday, August 09, 2019

PEOPLE'S LOVE

In the morning I saw a dew
In the evening I remember a few
Time's moving so fast
Leaving a question with us

Where'd you go my heart's owner
Except in a delusion for going further
I am a girl with a red cape
Brave enough to go and escape

Oh boy who's standing beside me
We are stronger more than a lot of bees
We are similar like a payment and fee
We love each other and sweet like a cup of tea

People's love is kind of mysterious way
In the jungle which full of day
In the dessert and thrown a dust away
People's love is clear than x-ray

People's love is beautiful like a sky



Batam, 9th August 2019
By : YURISTIARY, YELNA

Monday, September 24, 2018

Nenek Moyang Bahasa Indonesia adalah Bahasa Sanskrit

Budaya dan bahasa adalah dua hal yang sangat berhubungan erat. Di Indonesia sendiri kita mengenal begitu banyak bahasa mulai dari bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Padang, bahasa Manado dan masih banyak yang lainnya. Pada postingan ini saya akan membahas 5 kata yang menandakan bahasa Sanskit adalah nenek moyang bahasa Indonesia.

1. Banyak kata dalam bahasa Indonesia yang hampir sama dengan kata yang ada dalam bahasa sanskrit.
Beberapa kata dalam bahasa Indonesia seperti : Bumi (bhumi); Jambu (jamba_kya); Satu (Esa); Raja (Raja); Bahasa (Basha). Beberapa kata ini hampir sama dari pengembangan bahasa sanskrit yang merupakan bahasa tertua di India.

2. Dasar negara Indonesia terinspirasi dari bahasa sanskrit.
Jika kalian cinta Indonesia sudah tentu kalian tahu apa dasar negara kita. Ya, dasar negara Indonesia adalah Pancasila atau Lima Pilar. Panca artinya dalam derivasi bahasa sanskrit adalah Lima.

3. Pedagang India sudah lama berkunjung  dan menyebarkan budaya di Indonesia.
Jika kalian mengingat pelajaran sejarah kita dahulu, tentu kalian sudah sangat paham tentang pedagang-pedagang mana saja yang berkunjung ke Indonesia dan memberikan dampak perubahan budaya bangsa. Adapun bangsa-bangsa tersebut adalah bangsa Arab, India dan Cina. Ini adalah 3 nenek moyang besar bangsa Indonesia.

4. Penamaan mata uang India dan Indonesia hampir sama.
Di film-film India pastinya mata uang rupee kalian pernah dengar bukan? Dari aspek penamaan saja, rupee dan rupiah tidak jauh berbeda dari sisi fonem (bunyi)-nya.

5. Dasar dari kata dalam Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Sanskrit.
Banyak dasar-dasar kata bahasa Indonesia yang awal mulanya berasal dari bahasa sanskrit. Di Jawa, bahasa sanskrit adalah bahasa olden age (bahasa kuno nenek moyang terdahulu). Tidak hanya itu, peninggalan candi-candi hindu dan buddha pun banyak di wilayah ini. Tidak hanya itu, jika kalian pernah dengar kerajaan Sriwijaya/Srivijaya, sebenarnya kerajaan berasal dari India yang dulu sekali rajanya bernama Chandragupta. Nama-nama anak-anak Indonesia juga banyak yang berasal dari India seperti Sri (Shri), Wijaya (Vijay), Wisnu (Vishnu), Dwi (yang dalam bahasa sanskrit artinya dua) dan masih banyak yang lainnya.

Jika kalian pernah dengar bahwa asal usul Buddha merupakan bagian dari kebudayaan India, pastinya kalian juga akan penasaran. Di postingan selanjutnya saya akan bahas lebih jauh tentang ini.

Saya bahas ini bukan karena apa-apa melainkan karena penting bagi kita tahu tentang budaya, darimana kita berasal dan menyenangkan rasanya untuk memahami perkembangan manusia dari waktu ke waktu.

Saturday, September 22, 2018

The Importance of Diary

Good morning my blog reader,

Do you know how much important a diary in your life?

Maybe you'll never know until you facing difficulties in remembering something. Diary I'm discussing here is not diary just for sharing your personal feeling like we have before (at our olden days). Diary I talked about is diary for record our daily activities. This kind of diary will remembering us about all of activities we have to do in a day.

Here I tell you some advantage by using diary as your personal note in your daily life :

1. To set the daily target
For some people set the daily target is really important. When I was in university, I have small diary (pocket diary). I breakdown all of my daily target there everyday. After I finish doing something, I'll cross that word and move to another activities. For some people it is not so important. But for me, I feel happy when I saw all of the list activities already cross at that day. As simple as that.

2. To remember your previous activities
Diary also can be your personal assistant for remembering something. Maybe the simple things you have done yesterday, two days before, or last week you still remember. But for simple things you have done in one month before not all of the person can remember it. So, using diary is the best solution for that. You can remember everything and anything by your diary.

3. To be a prove for something
Some people won't believe if there's no proof. In the working area, all of the words will be nothing if it's not match with the written/paper record. Your diary can be the strength prove while you continously using it. Diary is almost same as the proof in many case of serial killer or kidnap or something like that. So, better you keep your achievement done inside your diary.

4. To make your life easier
Do you ever feel like very difficult to re-think about some case which on-going in your life? Mostly people will helpful with the information from their diary. I never make a research about this, but I feel it in many years of my life. Even I'm still young, 26 years old. Hahaha...

5. To re-check your next agenda
Put your agenda in diary will make your faster in making decision to arrange a meeting or decide something. When people ask to meeting or arrange some important schedule for you or company, the good information from your diary will show you'll available or not in that time.

6. To keep your memories
This is very personal. Diary for keep your memories. Just write down whatever you feel at that time, plus photo and every memories you have inside there. Sure your diary can bring you to the olden time of your life.

7. To decrease Skizofernia
Writing can decrease Skizofernia. Reading also can decrease this syndrome. You can read more article about that here :

http://www.dana.org/Cerebrum/Default.aspx?id=39304

and this :
http://www.dana.org/Cerebrum/Default.aspx?id=39304




Wednesday, August 08, 2018

HOBI MENULIS


Aku sebenarnya nggak punya hobi menulis sama sekali.
Dulu itu pas SMP aku pernah punya teman yang suka nulis puisi. Jadi tuh ceritanya si Via (nama teman aku yang doyan nulis puisi) ini punya buku kumpulan puisi. Karena ngeliat buku itu, terinspirasilah aku untuk buat buku kumpulan puisi juga. The next day aku beli buku tulis baru dan mulai menulis. Hanya saja tulisanku saat itu bukan hanya puisi tetapi juga ada cerpen a.k.a. Cerita Pendek di dalamnya. Cerita pendeknya biasanya aku tulis pas aku dimarahi mama. Biasanya inti cerpen nya itu lebih ke anak pungut yang ditemukan di selokan trus pas anak tersebut sudah besar, si ibu tiri ini kerjanya memarahi anaknya. Entah kenapa pada saat itu di dalam otakku aku adalah anak pungut dari si Ibu Yusni ini. Ha… ha… ha…

Jadi semenjak punya buku kumpulan puisi dan cerpen itu aku kerjanya nulis terus tak henti-henti. Sampai-sampai pernah suatu hari tangan itu sampai pegel nulis cerpen. Ada juga cerpen yang temanya dongeng pangeran katak. Pokoknya kalau di sejajarkan dengan team kreatif dari TV swasta mungkin aku sudah jadi script writer untuk sinetron-sinetron bertemakan fantasi seperti elang terbang, manusia serigala, dan yang lain-lain. Jadi sudah berbulan-bulan aku mulai menulis, hingga di suatu saat aku jadi ingat pelajaran komputer pada saat itu. Jadi itu sekitar tahun 2008 di desa kecil di Kabupaten Kampar, Riau, computer tercanggih yang pernah ada mungkin baru sebatas Komputer Pentium II. Nah, jam pelajaran computer menjadi salah satu pelajaran favorit untukku karena aku bisa mengetik cerpen dan puisi yang aku miliki. Hanya saja, saat itu butuh 1 disket untuk menyimpan 1 file dari data yang aku buat. Sedangkan disket itu harganya dapat dibilang mahal untuk ukuran anak SMP. Jadilah menulis di buku tulis menjadi suatu keharusan.

Di tahun ketiga SMP, aku sempat meminta dibelikan komputer kepada ayah dan ibuku. Waktu itu yang punya komputer di daerah kami hanya 1 orang dan itupun disewakan untuk umum. Biasanya di hari libur aku ke toko yang menyewakan komputer itu, kemudian aku mengetik cerpen dan mulai mengeprint hasil ketikan tersebut. Tanpa di save. Hasil print itu lebih dari cukup. Kemudian, sejak saat itu aku mulai memiliki buku kumpulan karya, ada itu cerpen, puisi. Hanya saja karyanya tidak dapat dipublikasikan karena masih banyak unsur-unsur alay di dalamnya.

Nah, pas aku masuk SMA, orang tuaku membelikan aku laptop. Bersama laptop itulah aku memulai menulis. Kali ini tulisan di buku kumpulan karya tidak lagi menerima cerpen, melainkan hanya puisi. Sedangkan untuk cerpen dan novel aku sudah mulai menulisnya di dalam file. Bersama laptop TOSHIBA itu juga aku mulai memiliki novel pertamaku. Aku mulai menulis dan menulis. Hingga pernah suatu malam aku hanya duduk, menulis, berbaring 5 menit, menulis lagi dan begitu seterusnya. Hingga esok paginya ujian Fisika aku mendapat nilai 55. Ketika guruku bertanya kenapa nilaiku bisa begini, aku cuma bilang kalau malam sebelumnya aku tidak belajar melainkan menulis cerpen. Ada raut kesal sepertinya di wajah bu guru Fisika, tapi apalah dayaku yang sedikit berbeda.
Hingga sebelum aku lulus, salah satu sahabatku bilang, “Ye, kau tetap menulis ya”.

Dan aku tetap akan menulis, tidak sekarang mungkin nanti. Tapi jika kau baca blog ini, kau bisa lihat aku tetap menulis. 😊

Ini tulisan khusus buat Mrs. S.

Thursday, August 18, 2016

ARTIFISIAL YANG BEKU

Aku hanya sebentuk benda yang kasat mata
Tidak hanya berlambang emas dan permata
Namun segala hal yang membuat engkau buta
Orang menyebutku harta, tahta dan wanita

Aku ada di negeri orang-orang kaya
Bicara masalah moral, dia kaya
Bicara masalah budaya, dia kaya
Bicara masalah pendidikan, dia kaya
Bicara masalah agama, dia kaya
Bicara masalah semua hal di dunia, dia kaya
Dia kaya karena banyak gaya

Negeriku penuh dengan orang-orang hebat
Selalu menggunakan trend yang tepat
Selalu tampil dengan cepat
Hingga akhirnya mereka hidup dengan rasa melarat
Kurang ini, kurang itu, kurang bermartabat

Mereka hidup di bawah bayang-bayang palsu
Semua yang melekat pada diri adalah artifisial yang bisu
Tak banyak pengakuan dari orang dari negeri-negeri yang maju
Mereka hanya pandai bergaya dan berlalu
Merasa jengah dengan tampang beku

Aku muak dengan orang-orang di negeri ini
Bangga menggunakan baju dari cap luar negeri
Bangga menganut sistem dan pola hidup yang jauh dari bijak bestari
Bangga menjadi topeng dan membuang jati diri

Aku ingin mereka menjadi aku
Selalu merasa bahagia dengan adanya aku



Batam, 18 Agustus 2016
Untuk orang-orang yang gila gaya

Sunday, January 25, 2015

Ruang dan Waktu ( Space and Time ) --- A poem


Memimpikan merpati tidak bersayap
Sama halnya dengan mengharap semanggi berdaun empat
Berharapkan bintang akan menjadi gelap
Serupa kiranya dengan berpikir matahri akan terbit dari barat
Begitu pula dengan kidung yang kita buat
Tidak hendak berpisah
Namun bertemu saja tak sempat
Tidak hendak gelisah
Senangpun tidak pernah mengecap

Kisah ini adalah bukti takdir begitu kuat
Bukan hanya terbatas oleh ruang dan waktu
Melainkan juga segala prasyarat
Bukan hanya terlambat bertemu
Namun untuk jauh pun kita tak pernah dekat

Kisah ini bagaikan orang yang tersesat
setelah sebelumnya amnesia
Tidak hanya sempat berucap
karena sudah terpisah sebelum kehidupan menginjak usia
Kita memang terpisah segalanya
Bukan hanya ruang dan waktu
Tetapi sejak awal kita melangkah

------- English Version --------

Dreaming about dove doesn't have a wing
It similar with a hope of clover with four leaf
Hoping stars will be darkened 

It similar with the sun will rise from the west
It's same with our hymns that we made
It's not break
Because it never meet
It's not to be restless
Because it never to be happy

This story is an evidence that the powerfull of destiny
Not only limited by space and time
But also all the prerequisites
Not only about a late converge
Because we never ever be too close

This story is like a man who lost
after he got amnesia
Not only had time to utter
because already separated before the age of life
We did everything apart
Not only limited by space and time
But from the beginning we took a step

Sunday, January 18, 2015

ADAKALANYA

Terkadang bukan hujan yang akan datang
Melainkan lebih angin topan yang mengguncang
Terkadang bukan arus lembut yang bertandang
Melainkan ombak ganas yang menghantam dengan garang
Aku dan kau tak pernah tau kapan kita berkenalan
Tidak juga tau kapan hujan akan menjadi teman
Hingga waktu menjawab semua pertanyaan
Tentang kita dan segenap perasaan

Adakalanya malam menjadi tuli
Tak mendengar dengan mata hati
Adakalanya pagi tidak lagi sepi
Karena penuh dengan kasak kusuk orang yang takut terhenti oleh mati
Adakalanya aku dan kau tidak sehati
Meskipun alur hidup menunjukkan kita sahabat sejati
Adakalanya kau akan kembali
Ketika kapalku telah menepi dan kota ini telah mati


Depok, 18 Januari 2015
di sela-sela aktifitas mengetik novel 'Syahlah'

Thursday, December 04, 2014

PAYUNG

Malam ini bersama tuts-tuts keyboard yang sangat ingin diperhatikan
Sekejap-sekejap aku lihat bayanganmu di sudut laptopku
Bukan gambar muka apalagi pose yang malu-malu mau
Hanya coretan-coretan kecil dengan senyuman tipis yang ambigu
Kau...
Bukan selimut di kala dingin datang
Bukan juga sepatu yang menemaniku untuk berjalan
Bahkan bukan juga tas ransel yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi
Kau adalah payung,
yang datang di saat yang tepat
Memberi perlindungan dengan perkasa,
melindungi anak-anak rambutku agar tidak basah
Melepaskan bulir-bulir hujan yang hendak jatuh,
yang dapat membikin flu

Kau datang hanya di satu-satu waktuku
Tidak sering namun perlu
Tidak lengkap rasanya hidupku tanpamu
Tidak juga bahagia aku bermain hujan jika kau tidak mau

Terkadang aku ingin hujan selalu datang
Agar ada alasan untuk kita bergandengan


Depok, 4 Desember 2014
 

Tuesday, May 20, 2014

Surat dari Ibu untuk Salo



23 Mantani 13101
Hidupku bersama Solomon terasa sangat bahagia. Hari ini lahir anak pertamaku. Bayi ini kami beri nama Tugev. Tugev adalah seorang bayi laki-laki bermata biru dengan kulit yang cerah. Rambutnya sedikit pirang seperti ayahku. Aku harapkan Tugev menjadi anak yang kuat dan dapat melindungi kami.

1 Seura 13101
Tugev masih saja belum sembuh. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sesaat Tugev kejang-kejang dan mata birunya menghitam. Adakah salah kode binary yang diciptakan Solomon? Apakah ada kerusakan sistem imun Tugev? Atau badai besar yang kembali menyerang membawa virus yang tidak kami ketahui. Aku berharap Tugev kembali tersenyum.

29 Umholi 13101
Tidak terbayangkan olehku bahwa Tugev telah pergi. Tiada lagi pangeran hatiku. Aku kosong dan tiada berarti.

20 Mope 13105
Penantian kami berbuah sudah, Tugev kecil kembali. Tugev kini bukan lagi seorang bayi laki-laki. Ia perempuan. Kelak aku namakan dia Salo.

4 Tenggi 13106
Bayi kecilku sudah lahir. Salo-ku bermata biru, sama seperti Tugev, anak lelaki pertamaku yang meninggal 10 hari setelah dilahirkan. Ia lincah dan rambutnya lurus sedikit ikal, warnanya hitam. Salo kecilku suka tersenyum. Setiap kali aku melihat senyumnya, entah mengapa hari-hariku serasa lebih lama. Rasanya tidak ada kekacauan seperti saat ini.

Friday, May 09, 2014

Petikan Novel 'Salo Rangeng'

Berikut sepenggal kutipan novel Salo Rangeng...



Di era 21, setiap orang hidup berbahagia dengan teknologi temuannya. Era ini dapat dikatakan era keemasan kehidupan manusia. Selain itu pada era ini masyarakat tidak lagi memikirkan pangan, energi dan air yang akan mereka gunakan. Kebutuhan sangat melimpah ruah di abad ini, tidak terbantahkan lagi karena perputaran produksi buah dan sayur meningkat pesat dan banyak dari sumber makanan ini yang tidak habis dikonsumsi oleh penduduk dunia. Di era 21 perkembangan melaju dengan segala jenis konsep bangunan multifungsi, apartemen terbang, penemuan vaksin beberapa penyakit yang kronis dan masih banyak lagi yang lainnya. Populasi penduduk pada era ini mencapai sekitar 20 milyar jiwa dengan tingkat kepadatan peenduduk tertinggi yaitu di negeri China. Di era ini juga muncul banyak penemu-penemu ilmu rekayasa baik di bidang desain, genetika, biologi, antariksa, psikologi dan banyak lagi yang lainnya. Era ini dinamakan era pintar oleh penduduk bumi. Setiap manusia memiliki dunianya sendiri. Mereka bebas untuk melakukan apa saja di dunia mereka tersebut.
Keegoisan manusia mulai melanda manusia di era 22. Tepatnya di tahun 2280 terjadi krisis besar yang menghancurkan sebagian populasi bumi di wilayah barat. Terjadi krisis energi yang semakin besar. Energi pada masa itu menjadi sangat langka dan merupakan alat tukar antar sesama manusia. Pada awalnya krisis energi dimulai dengan tergantikannya sumber energi fosil di belahan bumi barat. Pada masa itu, pasokan bahan bakar setiap negara tidak lagi disimpan di dalam tanah karena adanya rasa tidak nyaman antar negara-negara ini. Mulailah muncul pertikaian hingga terjadi pemusnahan bahan bakar fosil di Sao Paulo. Pemusnahan ini memicu perang krisis energi antar negara satu dengan negara lain. Di masa itu terjadi kelangkaan yang demikian besar sehingga satu-satunya negara yang bertahan atas krisis ini adalah negara-negara yang terletak di jalur cincin api, kepulauan, daerah yang sering diserang badai dan topan serta daerah dengan suhu tertinggi di dunia. Daerah-daerah inilah yang mampu bertahan dari serangan krisis ini.
Di lain sisi, krisis energi yang terjadi memicu ilmuwan untuk segera menemukan berbagai material yang dapat mensubstitusi fungsi dari bahan bakar fosil. Berbagai penelitian dilakukan di setiap institusi pendidikan hingga ditemukan material Mrya. Keunggulan dari material Mrya ini adalah fungsinya sebagai pengganti bahan bakar fosil dan pengatur suhu dari pembakaran. Dengan menggunakan material ini setiap proses pembakaran secara langsung akan menjadi efisien sehingga penggunaan energi alternatif tidak lagi menjadi harapan utama bagi penduduk dunia. Ayah Salo bercerita,
“Tahukah kamu anakku, Salo. Zaman di mana bumi ini sudah berubah bentuk namun tetap berputar pada porosnya yang sedikit bergeser karena kelalaian manusia, ketika itu terjadi tiga krisis besar yang kita hadapi. Pertama krisis energi, disusul oleh krisis pangan dan terakhir krisis air. Krisis energi bukanlah yang terburuk dari musibah yang terjadi karena selayaknya energi di dunia ini tidak akan pernah hilang. Seperti kata seorang penemu di abad 19, Einstein, energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, namun energi dapat berubah bentuk. Ketika energi fosil mulai menghilang, kita hanya perlu mencari reinkarnasi dari energi-energi yang sebelumnya pernah ada. Tidak sulit di masa itu bagi ilmuwan di muka bumi ini. Mereka sangat cerdas hingga dapat menjadikan gerakan kedipan mata mereka menjadi energi listrik”.
 

Tuesday, April 22, 2014

Gara-Gara Mayudin, Si Ketua Otoriter



Angin malam berhembus dari sela dedaunan rimbun samping halte asrama UI. Aku masih duduk menunggu bikun yang kelak akan mengantarkanku ke Fakultas Teknik. Tidak banyak orang di halte ini, hanya cukup untuk membentuk satu tim voli saja. Dua pria termasuk aku, satu ibu-ibu beserta suaminya dan dua mahasiswi yang tertawa berisik sambil bercanda dengan temannya. Kuhela nafas berat, sedikit kecewa karena bikun yang kutunggu masih belum terlihat tanda-tanda keberangkatannya. Bapak sopir yang bertugas mengendarai pun seolah hanyut bersama alunan lagu dangdut yang menemani mereka, lengkap dengan sekuteng hangat di malam-malam yang dingin seperti ini.
Tak lama ponselku bergetar,
“Halo”, kusapa datar orang di seberang sana.
“Tin, sudah dimana? Jangan lupa bawa kertas milimeter block ya”, Mayudin, si ketua kelompok otoriter itu mulai beraksi.
“Di halte asrama. Iya”. KLIK.
Bergegas aku kembali ke dalam pagar asrama, menuju kantin. Membeli milimeter block, terpaksa setuju menjadi jongos Mayudin untuk sementara waktu. Saat itu pukul 06.00 malam, sesudah magrib, ketenanganku terusik saat Mayudin mengirimkan sms seenaknya,
Dear kelompok 5, malam ini kita mulai membuat pemetaan di kantin teknik lantai 2. Kumpul di gazebo jam 8. Tidak datang berarti nama kalian siap untuk diputihkan.
Entah sejak kapan Mayudin kami percaya untuk menjadi ketua kelompok. Namun, jika dipikir lagi, kenyataan ini memang berawal dari sikap kami yang acuh terhadap tugas Bu Yanti. Tak ayal lagi, si Mayudin yang suka cari perhatian kepada beliau dipilih menjadi penanggung jawab kelompok 5, kelompok kami.
Buum... Buum... Deru mesin bikun memanggilku agar mempercepat transaksi jual beli milimeter block. Kumasukkan kertas itu ke dalam tas kuning transparan yang berisi penggaris siku dan pensil mekanik. Aku ambil kembalian dari Mas Dudi secepat kilat dan berlari menuju bikun yang tengah berjalan lambat, seolah menunggu seseorang. Jarakku tidak jauh dari pintu belakang bikun. Namun sepertinya deru mesinnya tidak dapat dihentikan. Pak sopir dari bikun ini pun terlihat tidak melihat atau pura-pura tidak memerhatikan bahwa masih ada penumpang yang ingin naik ke bikunnya.
Tertatih aku melangkah, berharap bikun yang penuh itu berhenti dan sekedar membuka pintu belakangnya barang semenit. Tapi ternyata jauh arang dari api, bikun tetap melaju meninggalkanku yang sudah mulai kelelahan berlari-lari kecil hingga sampai di depan warung Mang Engking. Kutatap bagian belakang bikun itu, sepertinya hanya satu dua orang yang masuk ke dalamnya. Sayang sekali, pikirku.
Kubalikkan badan kembali menuju halte asrama. Kelima orang yang sebelumnya menjadi temanku menunggu bikun kini telah pergi. Halte asrama telah kosong, yang tersisa hanyalah tempat duduk beton yang dilapisi keramik berwarna kuning dengan tempelan selebaran di bagian dindingnya. Seminar Hari Air, Job Fair, Mentoring Ikhwan, Lomba Kreasi Puisi FIB, Lowongan Mengajar, dan masih banyak yang lainnya. Lampu remang yang tertanam di langit-langit atap halte kini telah dikelilingi laron yang terbius dengan cahaya, meskipun itu sepercik.
Dengan langkah gontai aku menaiki trotoar dan kembali duduk di tengah halte. Sengaja memilih posisi di tengah, duduk, menyandar. Kesal dengan Mayudin yang telah menyebabkan aku harus berbalik ke kantin asrama lagi dan tertinggal bikun. Sendal jepit yang kukenakan kini terasa sedikit hangat karena dibawa berlari mengejar bikun tadi. Kulepas, kuangkat kakiku dan bersila di atas bangku halte, berharap bebas dari suntikan-suntikan serangga kecil yang tak beradab, nyamuk. Masih 15 menit lagi hingga bikun selanjutnya jalan. Akupun menguap.
Rasanya sudah lama aku menunggu bikun di halte ini, namun lagi-lagi tanda keberangkatan tak kunjung datang. Anehnya dari tadi hingga sekarang tidak ada anak asrama yang hendak keluar, ke UI. Halte yang sebelumnya ramai pun mulai terasa sepi, tidak ada tawa kedua gadis yang tadi. Tak ada juga obrolan sepasang ibu dan bapak yang sepertinya hendak akan makan di luar. Kulirik jam tangan Q&Q pemberian mama tiga bulan yang lalu, sudah 08.14, pikirku.
Tinggal satu menit lagi hingga bikun selanjutnya datang dan mengantarkanku ke Fakultas Teknik, bertemu kelompok 5, bertemu ketua yang otoriter. Semoga saja Mayudin tidak lagi memintaku membelikan ini itu di menit-menit seperti ini. Tanpa menunggu lama, sorot lampu bikun memecah gulita yang ada di sekitar halte. Deru mesin pun mulai bergemuruh memberi harapan bahwa sebentar lagi aku akan berangkat. Pak sopir yang tadinya duduk-duduk di balai tongkrongan pun bergegas menyeruput kopi yang entah masih panas atau sudah dingin karena tercampur angin malam yang mampu membuat alam sekelilingnya beku. Pak Karto, melangkah cepat ke arah bikun, ambil kendali dan menutup pintu bikun.
Buum... Buum... Mesin bikun kembali menderu, namun kali ini deruannya sedikit lebih bersahabat. Memberi instruksi kepada kita untuk masuk. Bikun dengan simbol merah yang menandakan bahwa terlebih dahulu akan melewati Fakultas Hukum berhenti tepat di depan halte asrama, membukakan pintu dan akupun masuk. Melangkah, riang.
“Terimakasih, Pak”, lirihku kepada Pak Karto.
Aku duduk tepat di belakang Pak Karto. Tempat yang strategis untuk cepat keluar dari bikun serta mengetahui siapa saja orang yang akan naik bikun. Siapa tahu nanti aku akan bertemu Kiki, Gilang dan Raden, temanku di kelompok 5. Tidak ada orang lain selain aku yang naik ke bikun ini. Entah karena ini malam Jumat malam, waktunya orang-orang pulang ke rumah masing-masing atau karena waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Waktu yang cocok bagi setiap orang untuk tetap berada di kamar, mengerjakan tugas, menonton drama Korea, bernyanyi-nyanyi sendiri atau sekedar tidur cepat untuk mempersiapkan energi untuk esok hari. Energi untuk jalan-jalan di akhir pekan. Sedangkah aku, kembali harus ke kampus, menyelesaikan tugas besar dengan si ketua otoriter, Mayudin.
Bikun melaju kencang hingga tiba di halte Gerbatama. Di halte ini tidak banyak yang masuk. Seorang ibu dan anaknya serta seorang gadis dengan rambut panjang sebahu. Dalam keremangan lampu bikun kulirik wajah gadis tinggi semampai ini. Mukanya terlihat mulus, namun sedikit menunduk. Mungkin karena lagi malas untuk kembali ke kampus juga, pikirku.
Pak Karto kembali memacu bikunnya. Saat ini bikun yang hampir kosong melompong ini melewati kawasan UIwood. Kawasan yang cukup horor di dalam situs-situs horor kampus seantero Indonesia. Konon di dalam salah satu situs yang pernah aku baca, kawasan ini dipenuhi dengan mahluk-mahluk yang tidak kasat mata. Jika membayangkankan, entah mengapa bulu kudukku bergidik sendiri. Ah... Sudahlah, pikirku.
Tiba-tiba dari arah pagar pembatas jalan, seorang kakek tua melompati pagar. Entah dari mana ia berasal, baju koko putih, sarung lusuh dan peci hitam. Celingak celinguk di jalan dan tiba-tiba berlari ke depan bikun yang tengah melaju kencang. Tak ayal lagi Pak Karto terkejut setengah mati. Niat hati ingin mengerem, entah kenapa jadinya malah tambah menginjak pedal gas. Bruuk... Kakek itu terlindas ban bikun. Sempat kurasakan ban bikun melindas tulang atau apapun dari bagian tubuh kakek itu. Rasanya seperti lewat di jalan berbatu. Kulihat wajah Pak Karto pucat pasi. Tangannya gemetar. Suasana bikun hening, serasa aura kehidupan tidak lagi ada di dalam bikun ber-AC ini. Aku lirik ibu dan anak yang berada tidak jauh dariku tadi, mereka hanya memandangiku. Entah apa arti tatapannya, sekilas terlihat senyum sinis di wajah sang ibu. Mukanya pun terlihat putih sekali, menyeramkan. Kulirik gadis dengan rambut sebahu yang dari tadi menunduk, perlahan ia menegakkan kepalanya. Aku terkesiap. Ternyata wajahnya tidak secantik yang aku bayangkan. Penuh bopeng dan darah segar mengalir dari sudut-sudut bibirnya.
“Yan... Yanda...”, si gadis memanggil namaku.
Seketika aku terkesiap, mengucek-ngucek mata yang semakin aku kucek terlihat semakin buram. Cahaya di sini tidak lagi seburam cahaya bikun yang tadi. Pandanganku menyapu setiap hal yang ada di dekatku. Meja belajar yang apik dengan susunan buku mekanika, kipas angin, lemari kayu, jemuran baju, tempelan tim bola kesayanganku dan jam dinding dengan merk bank lokal ternama. Di sebelahku kini ada Farid, memanggil sambil bermain DOTA di laptopnya. Kulirik jam dinding dengan merk bank itu, pukul 08.10 malam. Sudahlah. Aku izin tidak bertemu Mayudin, si ketua otoriter itu dulu. Tak perlu keluar dulu malam ini, pikirku.

Keterangan:
Bikun: bis kuning yang merupakan alat transportasi khusus wilayah Kampus UI.