Yelna's Hope

This website is a valuable resource that presents a wealth of professional experience and the unique point of view of Yelna Yuristiary. Yelna generously shares her insights, knowledge, and expertise, with the hope that readers can use the information to enhance their own understanding, make informed decisions, and achieve their goals.

Thursday, April 11, 2013

INOVASI KOLABORASI METODE FUKUBIO



Collaborative Innovation of FukuBio Methods and Leachate Utilitation on Landfill Liquid Waste Management to Increase Biogas Production and Methane Concentration

Ade Permata Suryaa, Ema Fiki Munayab , Yelna Yuristiaryc


Continuity of producing waste in society is one of the global issues that is worrying. Some of waste’s pill in landfill (TPA) is almost reached its culmination, in fact there are already overloaded. The increasing of that waste is  also affects the production of leachate (liquid waste dissolving soluble material waste). Leachate which is a type of liquid waste is one of the causes of damage to water bodies or groundwater of an area around the landfill. In general, treatment of leachate from the rubbish heap neutralization was limited only to eventually discharge into water bodies. In general, treatment of leachate from the waste’s pill is only the neutralization of that leachate to eventually discharge into the water bodies. Leachate which is initially not compatible with water quality standars is  sterilized so can be dumped and it doesn’t pollute the environment.
This paper presents a methode of  leachate management and it’s utilitation so that leachate can provide a big impact than  sterilization and reuse the leachate only. Mergering between Fukuoka method (one kind methods of waste management semi-aerobic) and utilization of leachate to increase the production of biogas and methane concentrations are  effective collaboration in liquid waste management problems that exist in the landfill. Quality standards and systems of work in FukuBio methods (Fukuoka-Biogas) is also expected  conform to the existing standards. Later, this method can be used as an alternative FukuBio for enterprise developers Biogas and waste management so that the liquid waste has a negative impact on the environment can be resolved. Applicating of the FukuBio method is also fundamental to the implementation of this method because wide area is needed as biogas production localization and localization of the waste.  By the utilization of leachate FukuBio method, pollution of water bodies due to liquid waste (by type leachate) can be solved in the area of ​​the landfill.

Keywords: leachate, fukuBio methode, biogas, Fukuoka methode


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Proses pengelolaan sampah menjadi hal yang sangat fundamental dalam penanganan kesehatan lingkungan saat ini. Berbagai metode yang diterapkan masih memiliki beberapa masalah yang terkait dengan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) merupakan tempat yang sangat penting dalam tahap pengelolaan sampah. Berdasarkan data SLHI tahun 2007 tentang kondisi TPA di Indonesia, sebagian besar merupakan tempat penimbunan sampah terbuka (open dumping) sehingga menimbulkan masalah pencemaran pada lingkungan. Hal ini terbukti dari data bahwa 90% TPA dioperasikan dengan open dumping dan hanya 9% yang dioperasikan dengan controlled landfill dan sanitary landfill (Anonim, 2011). Selain itu berdasarkan data yang diperoleh dari Direktorat Jendral Cipta Karya dalam Rencana Strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya 2009-2014, pada tahun 2010 dari 378 buah TPA di Indonesia dengan luas keseluruhan 1.886,99 ha, sebanyak 80,6 % masih menggunakan metode open dumping, 15,5 % menggunakan metode controlled landfill dan hanya 2,8 yang menerapkan metode sanitary landfill. (Titien, tanpa tahun)
Berdasarkan data di atas terlihat bahwa sistem operasi sebagian besar TPA yang ada di Indonesia cukup memprihatinkan karena ternyata sistem open dumping ini memiliki banyak kerugian yaitu membuat masyarakat sekitar lebih rentan terkena penyakit dan mendatangkan banyak masalah lingkungan seperti pertumbuhan vektor penyakit, pencemaran udara, asap pembakaran, pencemaran lindi, kebisingan, pandangan dan bau tak sedap, serta dampak sosial. Oleh sebab itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa mulai tahun 2013 TPA dilarang menggunakan sistem open dumping (Kementerian PU, 2012, Damanhuri dan Tri Padmi, 2010).
Oleh sebab itu dibutuhkan suatu sistem yang terintegrasi dalam sistem TPA yang ada saat ini. Awalnya sistem sanitary landfill dan controlled landfill telah dilakukan di beberapa TPA besar yang ada di Indonesia seperti di Bantar Gebang. Namun, efisiensi dari proses pengolahan limbah ini dapat ditingkatkan agar tercapainya efektifitas dari limbah itu sendiri. Sebagai solusi, gagasan yang ditawarkan disini adalah penggabungan antara metode fukuoka dan bioreactor landfill dengan sistem semi aerobik yang memanfaatkan air lindi untuk meningkatkan produksi biogas dan selanjutnya disebut sebagai metode fukubio. Metode Fukubio ini mejadi suatu alternatif baru dalam proses pengelolaan limbah, gas metana dan air lindi yang diciptakan.
 

Sistem Pengelolaan Sampah di Indonesia
Sampah pada dasarnya merupakan segala sesuatu yang dibuang karena sudah tidak digunakan lagi oleh pemiliknya. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup Tahun  2005 , sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembuatan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembuatan manufktur atau  materi berkelebihan atau ditolak atau buangan. Sedangkan dalam Undang-Undang No.18 tahun 2005 tentang Pengelolaan Sampah dinyatakan definisi sampah sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau dari proses alam yang berbentuk padat. Walaupun telah dibuang, sampah dapat mendatangkan manfaat apabila dikelola secara benar. Pengelolaan Sampah adalah kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah (Kementrian Lingkungan Hidup, 2007).
Indonesia sampai saat ini masih mempunyai masalah dalam pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Berdasarkan data SLHI tahun 2007 dalam Pemrosesan Akhir Sampah (http://www.sanitasi.or.id.pdf) tentang kondisi TPA di Indonesia, sebagian besar TPA di Indonesia merupakan tempat penimbunan sampah terbuka (open dumping) sehingga menimbulkan masalah pencemaran pada lingkungan. Data menyatakan bahwa 90% TPA dioperasikan dengan  open dumping dan hanya 9% yang dioperasikan dengan sistem landfill .
Metode Open Dumping dan Landfill di Indonesia
Open dumping (penimbunan secara terbuka) dan sanitary landfill (pembuangan secara sehat) adalah dua metode pengelolaan sampah yang sering digunakan selama ini. Pada sistem open dumping, sampah ditimbun di areal tertentu tanpa membutuhkan tanah penutup, sedangkan pada cara sanitary landfill, sampah ditimbun secara berselang-seling antara lapisan sampah dan lapisan tanah sebagai penutup. Dalam Draf Naskah Akademis Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sampah oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) disebutkan bahwa proses sanitary landfill adalah pembuangan sampah yang didesain, dibangun, dioperasikan dan dipelihara dengan cara menggunakan pengendalian teknis terhadap potensi dampak lingkungan yang timbul dari pengembangan dan operasional fasilitas pengelolaan sampah (JICA 2005). Metode sanitary landfill ini merupakan salah satu metoda pengolahan sampah terkontrol dengan sistem sanitasi yang baik. Sampah dibuang ke TPA (Tempat Pembuanagan Akhir), kemudian sampah dipadatkan dengan traktor dan selanjutnya di tutup dengan tanah, sehingga Cara ini akan menghilangkan polusi udara. Pada bagian dasar tempat tersebut dilengkapi sistem saluran lindi yang berfungsi sebagai saluran limbah cair sampah atau ke lingkungan. Pada metode sanitary landfill tersebut juga dipasang pipa gas untuk mengalirkan gas hasil aktivitas penguraian sampah.
Banyaknya TPA di Indonesia yang menggunakan sistem Open dumping  menyebabkan beberapa masalah, diantaranya adalah:
1.      Pertumbuhan vektor penyakit: Sampah merupakan sarang yang sesuai bagi berbagai vektor penyakit. Berbagai jenis rodentisida dan insektisida seperti, tikus, lalat, kecoa, nyamuk, sering dijumpai di lokasi ini.
2.      Pencemaran udara: Gas metana (CH4) yang dihasilkan dari tumpukan sampah ini, jika konsentrasinya mencapai 5–15 % di udara, maka metana dapat mengakibatkan ledakan.
3.      Pandangan tak sedap dan bau tak sedap: Meningkatnya jumlah timbulan sampah, selain sangat mengganggu estetika, tumpukan sampah ini menimbulkan bau tak sedap.
4.      Asap pembakaran Apabila dilakukan pembakaran, akan sangat mengganggu terutama dalam transportasi dan gangguan kesehatan .
5.      Pencemaran lindi: lindi merupakan air hasil dekomposisi sampah, yang dapat meresap dan mencemari air tanah.   
6.      Kebisingan: Gangguan kebisingan ini lebih disebabkan karena adanya kegiatan operasi  kendaraan berat dalam TPA (baik angkutan pengangkut sampah maupun kendaraan yang digunakan meratakan dan atau memadatkan sampah). 
7.      Dampak sosial : Keresahan warga setempat akibat gangguan-gangguan yang disebutkan di atas.
( Damanhuri, 1995 dalam http://www.sanitasi.or.id.pdf)
Banyaknya permasalahan yang timbul dengan metode pengelolaan Open Dumping ini membuat pemerintah Indonesia mengeluarkan PP Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Penyediaan Air Minum yang mensyaratkan bahwa penanganan sampah yang memadai perlu dilakukan untuk perlindungan air baku air minum. TPA wajib dilengkapi dengan zona penyangga dan metode pembuangan akhirnya dilakukan secara sanitary landfill (kota besar/metropolitan) dan  controlled landfill  (kota sedang/kecil). Pemantauan kualitas hasil pengolahan  lindi secara berkala juga perlu dilakukan. Selain itu terdapat Regulasi UU No. 18 Tahun 2008 yang mengisyaratkan ketentuan penutupan TPA  open dumping menjadi  sanitary  landfill dalam waktu 5 (lima) tahun, sehingga diperlukan berbagai upaya untuk melakukan revitalisasi TPA.  Itu artinya, pada tahun 2013 mendatang semua TPA di Indonesia seharusnya sudah menggunakan teknologi sanitary landfill dalam pengelolaan sampahnya.

Pengertian Air Lindi
Sampah yang dibuang ke landfill mengalami beberapa perubahan fisik, kimia dan biologis secara simultan yang diantaranya menghasilkan cairan yang disebut lindi. Lindi bisa didefinisikan sebagai cairan yang telah melewati sampah yang telah mengekstrasi material terlarut/tersuspensi dari sampah tersebut (Tchobanoglous, 1993).  Lindi diproduksi ketika cairan melakukan kontak dengan sampah yang terutama berasal dari buangan domestik, dimana hal  tersebut tidak dapat dihindari pada lahan pembuangan akhir.  Lindi dihasilkan dari infiltrasi air hujan ke dalam tumpukan sampah di TPA dan dari cairan yang terdapat di dalam sampah itu sendiri. Apabila tidak terkontrol, landfill yang dipenuhi air lindi dapat mencemari air bawah tanah dan air permukaan (http://www.sanitasi.or.id.pdf). Walaupun sanitary landfill lebih baik daripada open dumping akan tetapi pencemaran air tanah karena lindi masih dapat terjadi. Lindi dalam sanitary landfill dialirkan dengan pipa untuk ditampung dalam bak penampungan. Lindi yang tertampung dalam bak penampungan dapat meresap ke dalam tanah dan mencemari air tanah.
Pada umumnya karakteristik air lindi (leachate) adalah cairan berwarna coklat, mempunyai kandungan organik (BOD,COD) tinggi, kandungan logam berat biasanya juga tinggi dan  berbau septik. Komposisi zat kimia dari air lindi berubah-ubah tergantung pada beberapa hal antara lain adalah karakteristik dan komposisi sampah, jenis tanah penutup landfill, musim, pH dan kelembaban umur timbunan (usia landfill) (http://www.sanitasi.or.id.pdf).
Kandungan bahan organik dan bahan kimia pada lindi cukup tinggi. Jika tidak dilakukan pengolahan dengan baik akan menjadi sumber pencemar bagi badan air penerima, air tanah maupun topsoil tanah sebagai tempat tumbuhan mendapatkan nutrisi (Pfeffer, 1992). Keberadaan air lindi tanpa pengolahan yang baik pada akhirnya akan menjadi sumber penyakit bagi penduduk sekitarnya. Kandungan logam berat yang tinggi juga akan sangat berbahaya, yang bisa menyebabkan cacat bahkan kematian. Oleh karena itu perlu dilakukannya pengelolaan pada air lindi.

Air Lindi untuk Meningkatkan Produksi Biogas
Air lindi dapat diolah sebagai bahan untuk meningkatkan produksi biogas. Lindi mengandung berbagai macam zat organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biogas. Bahan organik yang ada di dalam air lindi ini akan diuraikan oleh mikroorganisme. Hasil dari penguraian lindi oleh mikroorganisme ini adalah metana sebagai produk utama dan nitrogen sebagai hasil sampingan. Air lindi mengandung metana yang merupakan komponen biogas. Gas metana (CH4) adalah komponen penting dan utama dari biogas karena merupakan bahan bakar yang berguna dan memiliki nilai kalor yang cukup tinggi dan mempunyai sifat tidak berbau dan tidak berwarna.

Metode Fukuoka
Pemanfaatan air lindi untuk meningkatkan produksi metana dapat dilaksanakan dengan metode fukuoka. Nama lain dari metode fukuoka adalah metode semi-aerobic landfill. Metode ini terkenal dengan nama metode fukuoka karena metode ini pertama kali diterapkan di Fukuoka, jepang. Metode fukuoaka adalah metode penimbunan sampah secara berlapis. Setiap lapisan dalam timbunan sampah ini biasanya diberi dua pipa yang berguna untuk menyalurkan air lindi dan gas metana.

Bioreactor Landfill
Bioreactor landfill merupakan operasi untuk merubah atau mendegradasi limbah organik. Operasi bioreactor landfill dapat dimanfaatkan untuk mendegradasi organik yang ada di dalam air lindi (leachete). Proses degradasi zat organik di dalam air lindi dilaksanakan dengan mengalirkan kembali air lindi (leachete) ke dalam tumpukan sampah. Ketika air lindi telah dialirkan ke tumpukan sampah, zat organik yang ada akan terdegradasi dan bereaksi sehingga meningkatkan produksi gas metana. Timbulan gas landfill akan dihitung berdasarkan berat kering masing-masing komposisi sampah.

Pembahasan
Pengaruh Penggunaan Metode Landfill dan Open Dumping di Indonesia
Pembuangan akhir sampah merupakan proses awal dari siklus pengelolaan persampahan formal. Adapun beberapa metode yang digunakan dalam proses pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) yaitu:
  1. Open dumping. Metode ini merupakan cara pembuangan akhir yang sederhana karena sampah hanya ditumpuk menjadi satu di lokasi tertentu tanpa adanya perlakuan khusus. Penggunaan metode Open dumping ini memberikan banyak dampak yang besar bagi masyarakat sekitar daerah pengumpulan sampah. Dalam penggunaan metode ini aspek estetika akan terganggu. Selain itu dengan adanya metode open dumping akan ada suatu timbulan sampah dengan jumlah yang relatif besar dan bau yang menyengat (khususnya jika sampah merupakan bahan organik)
  2. Controlled Landfill. Metode ini merupakan peralihan antara teknik open dumping dan sanitary landfill. Pada metode ini sampah ditimbun dan diratakan. Pipa-pipa ditanam pada dasar lahan untuk mengeluarkan air lindi dan ada juga pipa yang ditanam secara vertikal untuk mengeluarkan gas metan ke udara. Setelah timbunan sampah penuh biasanya dilakukan penutupan terhadap hamparan sampah tersebut dengan cara memadatkan tanah di atasnya. Penggunaan metode ini lebih baik dibanding dengan metode open dumping. Hanya saja metode ini melepas gas metan ke udara lepas sehingga nantinya gas metan yang keluar belum dapat termanfaatkan dengan baik. Selain itu dalam metode ini air lindi yang keluar biasanya hanya ditampung di suatu tempat untuk dinetralisasi sebelum dibuang ke badan air.
  3. Sanitary Landfill. Metode ini dilakukan dengan cara penimbunan sampah padat pada suatu hamparan lahan dengan memperhatikan keamanan lingkungan dengan adanya perlakukan terhadap sampah. Di dalam teknik ini sampah dihamparkan hingga mencapai ketebalan tertentu kemudian dipadatkan, dilapisi tanah dan kemudian dipadatkan kembali. Kegiatan ini dilakukan selang-seling antara tanah dan sampah. Metode ini merupakan metode yang paling baik digunakan. Hanya saja dalam aspek ekonomis, metode ini membutuhkan lahan yang luas serta biaya pengelolaan yang cukup besar. Sedangkan di lain pihak, jumlah timbulan sampah di Indonesia semakin hari semakin meningkat sehingga metode ini tidak efisien digunakan.

Penggunaan Metode Fukuoka di Indonesia
Metode Fukuoka berasal dari Jepang dan mulai dikenalkan di tahun 1966. Nama Fukuoka berasal dari pembangunan metode ini yang bekerja sama antara Universitas Fukuoka dan Kota Fukuoka. Metode Fukuoka merupakan metode pengolahan sampah oleh pemerintah dengan Universitas Fukuoka dengan menerapkan metode semi-aerobik. Sistem pengolahan limbah semi-aerobik (metode Fukuoka) dapat digambarkan sebagai penimbunan sampah secara berlapis. Setiap lapisan biasanya diberi dua pipa yang berguna untuk menyalurkan air lindi dan gas metana. Pipa pengumpul dalam sistem ini terdiri atas batu-batuan dan pipa perforasi yang dipasang di bawah lahan urug (landfill). Tujuan dari pipa pengumpul ini adalah untuk membuang air lindi secepatnya dari sistem. Air lindi akan sedapat mungkin dicegah agar tidak ke permukaan kemudian ditampung di bak penampungan dan kemudian dimurnikan sebelum dibuang atau dimanfaatkan kembali. Dengan metode Fukuoka, panas yang dihasilkan oleh dekomposisi mikrobiologi sampah yang menaikkan suhu lahan urug akan dialirkan melalui pipa pengumpul dengan ventilasi alami. Keadaan ini justru mempercepat dekomposisi sampah.
Keuntungan dari metode Fukuoka adalah :
  1. Air lindi dapat dibuang dengan cepat karena adanya pipa sehingga tekanan air bawah lapisan sampah dapat berkurang, rembesan air lindi juga berkurang dan menjaga keanekaragaman hayati di TPA.
  2. Udara di sekitar TPA terasa segar serta adanya pemurnian air lindi dalam waktu yang singkat.
  3. Emisi metana (yang memiliki dampak terhadap pemanasan global) berkurang, namun emisi CO2 meningkat.
  4. Dengan metode Fukuoka, kita dapat menerapkan peningkatan pengelolaan pengolahan limbah padat dengan biaya investasi awal yang rendah.
  5. Pipa-pipa pada metode ini dapat memperbesar wilayah aerobik pada tumpukan sampah.
  6. Proses stabilisasi TPA tergolong cepat.
Metode Fukuoka merupakan satu dari teknologi pengolahan limbah yang dapat dimanfaatkan di banyak tempat di dunia. Tidak seperti tempat pembuangan sampah anaerob yang mengumpulkan biogas, desain interior TPA dipertahankan dalam keadaan aerob sebanyak mungkin dengan tujuan stabilisasi yang cepat dan pelestarian lingkungan. Metode pengelolaan sampah dengan pendekatan metode Fukuoka saat ini sudah diterapkan di beberapa tempat di Indonesia. Salah satunya di daerah Nangroe Aceh Darussalam (tepatnya TPA Blang Bintang) yang telah menerapkan konsep teknologi Sanitary Landfill.

Pemanfaatan Air Lindi dalam Produksi Biogas
Air lindi merupakan air limbah yang dihasilkan oleh tumpukan sampah. Lindi (leachate) adalah cairan yang merembes melalui tumpukan sampah dengan membawa materi terlarut atau tersuspensi terutama hasil proses dekomposisi materi sampah atau dapat pula didefinisikan sebagai limbah cair yang timbul akibat masuknya air eksternal kedalam timbunan sampah melarutkan dan membilas materi terlarut, termasuk juga materi organik hasil proses dekomposisi biologis. Zat pencemar organik dan anorganik yang tinggi biasanya merupakan bagian dari lindi. Konsentrasi puncak dari COD dan total solid diatas 50.000 mg/L adalah biasa. Bagaimana pun juga lindi memiliki konsentrasi pencemar yang berbeda beda di tiap lahan berdasarkan umurnya. Peneliti mengatakan bahwa landfill yang masih muda memiliki lindi dengan kekuatan tinggi, dilusi dan penggunaan mikroba dapat menurunkan kekuatan lindi pada landfill yag berumur tua. Lindi yang berasal dari dekomposisi sampah mengandung bahan pencemar yang dapat menjadi sumber dari polusi air bila terlepas hingga badan air atau air tanah.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Imam Sabari dan Lukman Wibisono, air lindi dapat dimanfaatkan untuk produksi biogas. Air lindi memaksimalkan produksi biogas dan gas metana yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan air lindi dari TPA Piyungan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi biogas dan konsentrasi gas metana. Berdasarkan data penelitian diketahui bahwa penambahan air lindi sebanyak 20% dari total volume substrat dapat meningkatkan produksi biogas hingga 86,64% dan konsentrasi gas metana sebanyak 28% (Anonim, 2010).

Kolaborasi Metode Fukuoka dalam Proses Produksi Biogas (FukuBio)
Metode Fukuoka merupakan salah satu jenis dari metode sanitary landfill semi-aerob karena udara yang masuk ke dalam tumpukan sampah minim sekali. Dalam sistem pengolahan sampah dengan metode ini, akan terdapat lapisan sampah. Setiap lapisan biasanya diberi satu pipa yang berguna menyalurkan air lindi dan satu pipa yang berguna untuk menyalurkan gas metana. Dalam tulisan ini, akan dibahas mengenai kolaborasi metode Fukuoka dengan peningkatan produksi Biogas.
Metode pengelolaan sampah yang dilakukan dengan metode Fukuoka memungkinkan air lindi untuk terkumpul di dalam suatu tempat penampungan sehingga pemanfaatannya sebagai zat yang meningkatkan produksi biogas dapat diaplikasikan. Biasanya, air lindi yang dihasilkan di beberapa TPA yang menggunakan sistem sanitary landfill hanya menetralisir air lindi yang ia hasilkan, kemudian setelah air tersebut telah sesuai dengan standar baku mutu lingkungan, air tersebut akan dialirkan ke badan air sehingga biaya dari proses pengolahan ini juga berdampak pada efisiensi pengelolaan sampah yang dilaksanakan. Air lindi yang merupakan salah satu air limbah dianggap tidak bermanfaat bagi sebagian orang dan dapat mencemari lingkungan sebenarnya memiliki manfaat yang sangat baik. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Shad:
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah.” (Shad: 27)
Dalam hal pemanfaatan air lindi untuk meningkatkan produksi biogas digunakan bioreactor landfill yang merupakan metode pengembangan dan konvensional landfill yang bertujuan mempercepat proses degradasi sampah yang tertimbun di dalam landfill dengan pengumpulan dan pensirkulasian kembali air lindi yang dihasilkan. Air lindi yang telah disirkulasi secara otomatis akan berkurang kuantitas kandungan pencemarnya dan dampaknya terhadap potensi gas yang dihasilkan oleh tumpukan sampah. Karena potensi gas di pengaruhi oleh kandungan organik yang ada di dalam air lindi, maka proses resirkulasi tersebut sangat bermanfaat sehingga terjadinya peningkatan produksi gas metan pada TPA. Menurut penelitian yang dilakukan Ika Bagus dkk, nilai puncak produksi gas metana (CH4) dengan sirkulasi air lindi terjadi pada sampah segar sebesar 0,292 liter pada HRT ke-22 dan untuk sampah umur 3-4 bulan 5,195 liter pada HRT ke-34.
Metode FukuBio merupakan metode yang menawarkan solusi pemanfaatan air lindi yang telah dihasilkan dalam sistem pengelolaan sampah dengan metode Fukuoka. Penggabungan metode Fukuoka dan metode Bioreactor Landfill dilakukan dalam integrasi sistem ini agar air lindi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali dengan resirkulasi untuk meningkatkan produksi biogas.


 
Efisiensi Kolaborasi Metode FukuBio dalam Proses Produksi Biogas
Kolaborasi metode FukuBio merupakan salah satu inovasi metode yang dapat meningkatkan efektifitas metode pengelolaan sampah dan meningkatkan produksi metana dari sampah yang dikelola. Di dalam kolaborasi dua metode ini terdapat sistem overlap antara pengumpulan air lindi dan pemanfaatan air lindi untuk meningkatkan produksi gas metana.
Pengelolaan sampah dengan metode sanitary landfill (metode Fukuoka) dilakukan untuk memperoleh air lindi dan memisahkannya di suatu tempat sehingga tidak mencemari lingkungan. Untuk penggunaan material sistem pengolahan diusahakan menggunakan material waterproof sehingga air lindi tidak meresap ke dalam tanah dan mencemari air tanah sekitar. Setelah air lindi dihasilkan, kemudian air lindi dialirkan ke sistem pengelolaan sampah yang menerapkan metode Bioreactor Landfill. Dengan pengaliran air lindi kembali ke dalam sistem ini, bahan organik yang ada di dalam air lindi berkurang sehingga proses netralisasi air lindi tidak terlalu dibutuhkan (jika dibutuhkan, konsentrasi penetral yang digunakan akan seminimal mungkin) sehingga biaya pengelolaan air lindi dapat dikurangi.
Kolaborasi metode Fukuoka dan metode Bioreactor Landfill dapat dikatakan lebih efisien karena metode ini memanfaatkan lingkungan dalam hal pengerjaan sistemnya. Metode Fukuoka merupakan satu dari jenis metode sanitary landfill yang minim biaya. Kemudian, pemanfaatan kembali air lindi dengan menggabungkannya ke dalam metode Bioreactor Landfill menjadikan peningkatan produksi biogas sehingga nantinya di dalam satu TPA akan dihasilkan gas metana dengan jumlah yang lebih besar dengan biaya seminim mungkin. Pengelolaan sampah dengan kedua metode ini juga mengurangi kasus pencemaran lingkungan akibat sampah (khususnya pencemaran akibat air lindi). Sehingga metode FukuBio termasuk ke dalam metode pengelolaan sampah yang efektif dan efisien dilaksanakan di Indonesia.

Keuntungan Metode FukuBio
Metode FukuBio yang merupakan kolaborasi antara metode Fukuoka dan operasi Bioreactor Landfill memiliki beberapa keuntungan, seperti:
  1. Memanfaatkan lindi yang dihasilkan dalam metode Fukuoka.
  2. Meningkatkan produksi biogas dengan adanya proses resirkulasi.
  3. Meminimalisir penggunaan biaya dalam proses netralisasi lindi.
  4. Meminimalisir potensi terpaparnya lindi ke lingkungan sekitar


No comments:

Post a Comment

Entri Populer